Referensi Teori Pavlov
- PENDAHULUAN
Belajar merupakan proses perubahan
perilaku yang disebabkan oleh pengalaman. perubahan Anak yang merasa ketakutan
ketika berjalan sendiri pada malam hari merupakan hasil dari belajar anak telah
belajar menghubungkan kegelapan dengan suatu keadaan yang menyeramkan. Reaksi
ini dapat diperoleh secara tidak sadar maupun secara sadar dan juga dapat
diperoleh dari hasil belajar.
Secara luas teori
belajar selalu dikaitkan dengan ruang lingkup bidang psikologi atau bagaimanapun
juga membicarakan masalah belajar ialah membicarakan sosok manusia. Ini dapat
diartikan bahwa ada beberapa ranah yang harus mendapat perhatian. anah-ranah
itu ialah ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Akan tetapi
manusia sebagai makhluk yang berpikir, berbeda dengan binatang. Binatang adalah
juga makhluk yang dapat diberi pelajaran, tetapi tidak menggunakan pikiran dan
akal budi. Ivan Petrovich Pavlov, ahli psikologi Rusia berpengalaman dalam
melakukan serangkaian percobaan. Dalam percobaan itu ia melatih anjingnya untuk
mengeluarkan air liur karena stimulus yang dikaitkan dengan makanan. Proses
belajar ini terdiri atas pembentukan asosiasi (pembentukan hubungan antara
gagasan, ingatan atau kegiatan pancaindra) dengan makanan.
- Teori Clasikal Conditioning
Dapat dikatakan
bahwa pelopor teori coditioning adalah Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia, seorang ahli psikolog-refleksologi dari Rusia. Ia mengadakan
percobaan-percobaan dengan anjing. Secara ringkas percobaan-percobaan Pavlov
dapat kita uraikan sebagai berikut:
Seekor anjing
yang telah dibedah sedemikian rupa, sehingga kelenjar ludahnya berada diluar
pipinya, dimasukkan ke kamar yang gelap. Di kamar itu hanya ada sebuah lubang
terletak didepan moncongnya, tempat menyodorkan makanan atau menyorotkan cahaya
pada waktu diadakan percobaan-percobaan. Pada moncongnya yeang telah dibedah
dipasang sebuah pipa (selang) yang dihubungkan dengan sebuah tabung diluar
kamar. Dengan demikian dapat diketahui keluar tidaknya air liur dari moncong
anjing oitu pada waktu diadakan percobaan-percobaan. Alat-alat yang digunakan
dalam percoban-percobaan itu ialah makanan, lampu senter untuk menyorot
bermacam-macam warna, dan sebuah bunyi-bunyian.
Dari hasil
percobaan yang dilakukan dengan anjing itu Pavlov mendapat kesimpulan bahwa
gerakan-gerakan refleks itu dapat dipelajari, dapat berubah karena mendapat
latihan. Sehingga dengan demikian dapat dibedakan dua macam refleks, yaitu
refleks wajar (unconditioned refleks)-keluar air liur ketika melihat
makanan yang lezat dan refleks bersyarat atau refleks yang dipelajari (conditioned
refleks)-keluar air liur karena menerima atau bereaksi terhadap warna sinar
tertentu, atau terhadap suara bunyi tertentu.
Demikianlah
maka menurut teori conditioning belajar itu adalah suatu proses
perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang
kemudian menimbulkan reaksi (response). Untuk menjadikan seseorang itu
belajar haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam
belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan-latihan yang continue
(terus-menerus). Yang diutamakan dalm teori ini adalah hal belajar yeng terjadi
secara otomatis.
Penganut teori ini mengatakan
bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil daripada conditioning.
Yaitu hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap
syarat-syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya dalam
kehidupannya. Proses belajar yang digambarkan seperti
itu menurut Pavlov terdiri atas pembentukan asosiasi antara stimulus dan
respons refleksif. Dasar penemuan Pavlov tersebut, menurut J.B. Watson
diberi istilah Behaviorisme. Watson berpendapat bahwa perilaku manusia harus
dipelajari secara objektif. la menolak gagasan mentalistik yang bertalian
dengan bawaan dan naluri. Watson menggunakan teori Classical Conditioning
untuk semuanya yang bertalian dengan pembelajaran. Pada umumnya ahli psikologi
mendukung proses mekanistik. Maksudnya kejadian lingkungan secara otomatis akan
menghasilkan tanggapan. Proses pembelajaran itu bergerak dengan pandangan
secara menyeluruh dari situasi menuju segmen (satuan bahasa yang diabstraksikan
dari kesatuan wicara atau teks) bahasa tertentu. Materi yang disajikan mirip
dengan metode dengar ucap.
Kelemahan dari
teori conditioning ini adalah, teori ini mengangaap bahwa belajar itu
hanyalah terjadi secarab otomatis, keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak
dihiraukannya. Peranan latihan atau kebiasaan terlalu ditonjolkan. Sedangkan
kita tidak tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu manusia tidak
semata-mata tergantung kepada pengaruh dari luar. Aku atau pribadinya sendiri
memegang peranan dalam memilih dan menentukan perbuatan dan reaksi apa yang
akan dilakukannya. Teori conditioning ini memang tepat kalau kita
hubungkan dengan kehidupan binatang. Pada manusia teori ini hanya dapat kita
terima dalam hal-hal belajar tertentu. Umpamanya dalam belajar yang mengenai
skills (kecekatan-kecekatan) tertentu dan mengenai pembiasaan pada abak-anak
kecil.
Dari eksperimen yang dilakukan
Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar,
diantaranya :
a. Law of Respondent
Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus
dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer),
maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
b. Law of Respondent
Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah
diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa
menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
2. Pengertian Teori
Behaviorisme
Behaviorisme merupakan
salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang
individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek
mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat,
minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata
melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang
dikuasai individu. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori
belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya
perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau
mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional;
behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh
faktor-faktor lingkungan. Dalam
arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang
individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan.
Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini,
timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah
mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan
peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan
pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan
kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang
diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa
tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau
reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar
terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya.
Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan
reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar.
3. Aplikasi Teori
Behaviorisme
Belajar adalah perubahan
dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon.
Perubahan perilaku dapat berujud sesuatu yang konkret atau yang non konkret,
berlangsung secara mekanik memerlukan penguatan. Aplikasi teori belajar
behaviorisme dalam pembelajaran, tergantung dari beberapa hal seperti tujuan
pembelajaran, sifat meteri pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas
pembelajaran yang tersedia. Adapun contoh aplikasi teori belajar behaviorisme menurut Pavlov adalah pada
awal tatap muka antara guru dan murid dalam kegiatan belajar mengajar, seorang
guru menunjukkan sikap yang ramah dan memberi pujian terhadap murid-muridnya,
sehingga para murid merasa terkesan dengan sikap yang ditunjukkan gurunya.
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Teori belajar merupakan landasan
terjadinya suatu proses belajar yang menuntun terbentuknya kondisi untuk
belajar. Teori belajar dapat didefinisikan sebagai integrasi prinsip-prinsip
yang menuntun di dalam merancang kondisi demi tercapainya tujuan pendidikan.
Dengan adanya teori belajar akan memberikan kemudahan bagi guru dalam
menjalankan model-model pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Telah banyak ditemukan teori
belajar yang pada dasarnya menitikberatkan ketercapaian perubahan tingkah laku
setelah proses pembelajaran. Teori belajar merupakan suatu ilmu pengetahuan
tentang pengkondisian situasi belajar dalam usaha pencapaian perubahan tingkah
laku yang diharapkan.
Salah satu teori belajar yang
berpengaruh terhadap pelaksanaan pembelajaran adalah teori belajar yang
dikembangkan oleh Ivan Petrovich Pavlov dengan teori Classical
Conditioning-nya. Namun sebenarnya teori belajar ini tidak hanya
dikembangkan oleh Pavlov saja melainkan masih banyak pakar-pakar psikologi yang
menjabarkan teori ini seperti Piaget.
I.2 RUMUSAN MASALAH
Secara garis besar pembahasan makalah ini dirumuskan sebagai berikut :
Secara garis besar pembahasan makalah ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Menguraikan
biografi Ivan Petrovich Pavlov
2. Menguraikan
eksperimen Classical Conditioning Ivan Petrovich Pavlov
3. Menjelaskan
teori belajar menurut Ivan Petrovich Pavlov
4. Menjelaskan
aplikasi dan manifestasi teori Pavlov terhadap pembelajaran siswa
I.3 TUJUAN
PEMBAHASAN
Tujuan dari diadakannya pembahasan ini adalah sebagai berikut :
Tujuan dari diadakannya pembahasan ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk
mengetahui sejarah lahirnya Ivan Petrovich Pavlov
2. Untuk
mengetahui eksperimen Ivan Petrovich Pavlov sehingga mampu melahirkan rumusan
teori belajarnya
3. Untuk
mengetahui teori belajar yang kemukakan oleh Ivan Petrovich Pavlov
4. Untuk
mengetahui peng-aplikasian teori belajar Pavlov terhadap proses pembelajaran
I.4 MANFAAT
Kegunaan dari pembahasan ini adalah :
Kegunaan dari pembahasan ini adalah :
1. Bagi kami
pembahasan ini merupakan wahana latihan pengembangan ilmu pengetahuan dan
keterampilan dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah.
2. Dengan
adanya pembahasan ini tentunya kami semua akan semakin memperkaya ilmu pengetahuan
kami tentang Psikologi Belajar khususnya materi Teori Belajar menurut Pavlov.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 IVAN PETROVICH PAVLOV(1849-1936)
Pavlov lahir
di Rusia pada 1849 dan meninggal pada tahun 1936. Ayahnya adalah pendeta dan Pavlov
juga belajar untuk menjadi pendeta namun berubah pikiran dan menghabiskan
sepanjang hidupnya untuk mempelajari fisiologi. Pada 1904 dia memenangkan
hadiah Nobel untuk karyanya di bidang fisiologi pencernaan. Dia memulai
study reflex yang dikondisikan pada usia 50 tahun.
Metode study pencernaan Pavlov menggunakan cara pembedahan pada anjing
yang memungkinkan cairan perut mengalir melalui suatu hiliran(fistula) keluar
dari tubuh , dan cairan ditampung. Pavlov mengukur sekresi perut saat anjing
merespon bubuk makanan dia melihat bahwa hanya melihat makanan saja telah
menyebabkan anjing mengeluarkan air liur. Selain itu, saat mendengar langkah
kaki eksperimenter anjing juga mengeluarkan air liur. Pada awalnya Pavlov
menyebutnya sebagai reflex”psikis”, tetapi sebagai ilmuwan yang objektif
dan sebagai seorang fisiologis Pavlov enggan meneliti hal itu.Akhirnya dia
memutuskan untuk mempelajari isu itu tetapi sebagai problem fisiologis murni
agar tidak ada elemen subyektif yang masuk ke dalam risetnya.
II.2 EKSPERIMEN PAVLOV TERHADAP TEORI BELAJAR
II.2.1 OBSERVASI EMPIRIS
Perkembangan Reflek yang Dikondisikan
Istilah Pengkondisian Pavlovian dan pengkondisian klasik adalah sama.Unsur yang
dibutuhkan untuk melahirkan pengkondisian Pavlovian atau klasik
adalah:(1)Unconditioned Stimulus( stimulus yang tak dikondisikan[US]), yang
menimbulkan respon alamiah atau otomatis dari organisme;(2) Unconditioned
Response(respon yang tidak dikondisikan[UR]) yang merupakan respon alamiah dan
otomatis yang disebabkan oleh US; dan (3)Conditioned Stimulus(stimulus yang
dikondisikan[CS]), yang merupakan stimulus netral karena ia tidak menimbulkan
respon alamiah atau otomatis pada organisme. Ketika unsur-unsur ini bercampur
dengan cara-cara tertentu, akan terjadi Conditional Respon(respon yang
dikondisikan [CR]). Untuk memproduksi CR,CS dan US harus dipasangkan beberapa kali.
Prosedur ini digambarkan sebagai berikut:
Prosedur training:CS→US→UR
Demonstrasi Pengkondisian: CS→CR
UR dan CR selalu merupakan jenis respon yang sama.
Namun, besarnya CR selalu lebih sedikit daripada UR, tetapi hal ini
ternyata tidak benar,setidaknya dalam beberapa kasus.
Pelenyapan Eksperimental
Eksistensi CR bergantung pada US,itu sebabnya US
disebut sebagai penguat (reinforcer). Tanpa US,CS tidak akan mampu mengeluarkan
CR. Demikian pula, jika setelah CR dikembangkan,CS terus dihadirkan tanpa adanya
US, maka CR pelan-pelan akan lenyap. Ketika CS tak lagi menghasilkan CR,
exstinction(pelenyapan)eksperimental dikatakan telah terjadi. Pada intinya
pelenyapan terjadi ketika CS disajikan kepada organisme tanpa diikuti dengan
penguatan. Dalam studi pengkondisian klasik, penguatan adalah US.
Pemulihan Spontan(spontaneous recovery)
Beberapa waktu sesudah pelenyapan,jika CS sekali lagi
dihadirkan kepada hewan, CR akan muncul kembali secara temporer. CR” dipulihkan
secara spontan” meskipun tidak ada lagi pasangan CS dan US.Jika ada penundaan
setelah pelenyapan dan CS disajikan kepada organisme, ia cenderung akan
mengeluarkan CR.
Pengkondisian Tingkat Tinggi
Setelah CS dipasangkan dengan US beberapa kali,ia dapat dipakai seperti US.
Yakni setelah dipasangkan dengan US,CS mengembangkan properti penguatan
sendiri, dan ia dapat dipasangkan dengan CS kedua untuk menghasilkan CR.
Misalnya kedipan cahaya (CS) dengan penyajian makanan(US). Makanan akan
menyebabkan hewan mengeluarkan air liur ,dan setelah CS dan US beberapa kali
dipasangakan, maka penyajian cahaya saja akan menyebabkan hewan mengeluarkan
liur. Keluarnya air liur setelah ada kedipan cahaya adalah respons yang
dikondisikan.
Sekarang cahaya yang menimbulkan air liur itu dapat dipasangkan lagi dengan CS
kedua,misalnya suara dengungan. Arah pendampingan pasangan sama dengan
pengkondisian awal: pertama CS baru(suara berdengung) disajikan,dan kemudian
disajikan cahaya. Makanan tidak lagi dipakai disini. Setelah beberapa kali
dipasangkan, suara saja sudah bisa menyebabkan hewan mengeluarkan liur. Dalam
contoh ini,CS pertama dipakai seperti US yang dipakai untuk menghasilkan respon
yang dikondisikan. Ini dinamakan pengkondisian tingkat kedua. Kita juga
mengatakan bahwa CS pertama mengembangkan properti penguat sekunder karena ia
dipakai untuk mengondisikan respons terhadap stimulus baru. Karenanya ,CS ini
dinamakan secondary reinforcer(penguat sekunder). Penguat sekunder tidak
dapat berkembang tanpa US sehingga dinamakan primary reinforcer (penguat
primer).
Prosedur ini dapat dilanjutkan satu tingkat lagi. CS kedua(suara) dapat
dipasangkan dengan CS lainnya, seperti nada 2.000-cps. Arah pendamping masih
sama seperti sebelumnya: pertama nada,kemudian suara dengungan. Akhirnya ,nada
saja sudah cukup untuk menyebabkan hewan berliur. Jadi,melalui pemasangannya
dengan cahaya ,suara dengung menjadi penguat sekunder, dan karenanya dapat
dipakai untuk mengondisikan respons ke stimulus baru,nada 2.000-cps. Ini adalah
pengkondisian tingkat ketiga. Pengkondisian tingkat kedua dan ketiga ini
dinamakan higher-order conditioning (pengkondisian tingkat tinggi).
Karena pengkondisian tingkat tinggi harus dipelajari selama proses
pelenyapan, maka sangat sulit untuk melampaui pengkondisian tingkat ketiga.
Saat pengkondisian tingkat kedua dan tiga terlewati,besaran CS menjadi semakin
kecil dan CR hanya bertahan selama segelintir percobaan. Nada hanya menimbulkan
sedikit liur dan hanya terjadi pada waktu awal.
Generalisasi
Ada hubungan antara konsep generalisasi pavlov dengan penjelasan transfer
training dari Thorndike. Dengan generalisasi, seperti training dan
situasi tes yang lebih banyak kemiripannya, ada lebih besar kemungkinan bahwa
respon yang sama akan diberikan untuk kedua situasi. Generalisasi dan
transfer menjelaskan bahwa kita dapat memberikan reaksi yang telah
dipelajari untuk situasi yang belum pernah dijumpai sebelumnya; yakni
merespon situasi baru seperti ketika kita merespon situasi yang serupa yang
sudah kita kenali.
Ada perbedaan antara penyebaran efek Thorndike dengan generalisasi Pavlov.
Untuk penyebaran efek ,kedekatan adalah faktor penting. Generalisasi
mendeskripsikan peningkatan kemampuan memproduksi CR oleh stimuli yang terkait
dengan stimulus yang mendahului penguatan. Untuk generalisasi, kemiripanlah
yang penting bukan kedekatan.
Diskriminasi
Lawan dari generalisasi adalah
discrimination(diskriminasi).Diskriminasi mengacu pada tendensi untuk merespon
sederetan stimuli yang amat terbatas atau hanya pada stimuli yang digunakan
selama training saja.Diskriminasi dapat muncul melalui 2 cara: training yang
lebih lama dan penguatan diferensial. Pertama, jika CS berkali-kali
disandingkan atau dipasangkan dengan US dalam waktu yang lebih lama ,kecenderungan
untuk merespon stimuli yang terkait dengan CS yang tidak identik akan menurun.
Dengan kata lain, jika penyandingan antara CS dan US yang akan mengembangkan CR
dilakukan dalam jumlah minimum,maka akan ada tendensi yang relatif kuat untuk
merespon stimuli yang terkait dengan CS selama pelenyapan; yakni, ada
generalisasi yang cukup besar. Akan tetapi jika training diperpanjang,ada
pengurangan tendensi untuk merespon stimuli yang terkait dengan CS selama
pelenyapan. Jadi adalah mungkin untuk mengontrol generalisasi dengan mengontrol
level training: semakin banyak jumlah training , semakin sedikit
generalisasinya.
Cara kedua untuk melahirkan diskriminasi adalah
melalui penguatan diferensial yakni dengan menyajikan nada 2.000-cps bersama
dengan sejumlah nada lain yang akan terdengar selama proses pelenyapan. Setelah
training itu ,ketika hewan diberi nada selain nada berfrekuensi 2.000-cps
selama pelenyapan,ia cenderung tidak meresponnya. Disinilah terjadi
diskriminasi.
Hubungan antara CS dan US
Ada 2 pertimbangan umum tentang pengkondisian klasik.Pertama, adanya interval
presentasi optimal antara CS dan US agar pengkondisian terjadi dengan
cepat. Sejumlah peneliti menemukan bahwa jika CS datang setengah detik sebelum
US,akan terjadi pengkondisian yang paling efisien. Jika waktu antara kedua
kejadian itu lebih lama atau kurang dari 0,5 detik,pengkondisian akan relatif
sulit terjadi. Namun hal ini hanya bersifat penyederhanaan karena interval
waktu optimal antara permulaan CS dan permulaan US agar terjadi pengkondisian
bergantung pada banyak faktor.
Pertimbangan kedua, dengan menggunakan prosedur
pengkondisian klasik, CS yang muncul setelah US disajikan akan sangat sulit
menciptakan pengkondisian atau bahkan tidak mungkin. Hal ini dinamakan backward
conditioning(pengkondisian ke belakang).Secara umum,Egger dan miller
menyimpulkan bahwa agar pengkondisian klasik terjadi , organisme harus bisa
menggunakan CS untuk memeprediksi apakah penguatan akan terjadi atau tidak.
II.3 TEORI BELAJAR MENURUT IVAN PETROVICH PAVLOV
II.3.1 KONSEP TEORITIS UTAMA
Eksitasi (kegairahan) dan Hambatan
Menurut Pavlov,dua proses dasar yang mengatur semua
aktivitas sistem saraf sentral adalah excitation(eksitasi) dan
inhibition(hambatan). Eksitasi dan hambatan adalah sisi-sisi dari proses yang
sama,keduanya selalu ada secara bersamaan,namun proporsinya selalu bervariasi
di setiap saat, kadang yang satu lebih menonjol,dan kadang yang satunya lagi
yang lebih menonjol. Menurut Pavlov setiap kejadian di lingkungan berhubungan
dengan beberapa titik di otak dan saat kejadian ini dialami,ia cenderung
menggairahkan atau menghambat aktivitas otak. Jadi, otak terus-menerus
dirangsang atau dihambat,tergantung pada apa yang dialami oleh organisme. Jadi,
jika satu nada secara terus-menerus diperdengarkan ke seekor anjing sebelum ia
diberi makan, area di otak yang dibangkitkan oleh nada suara itu akan membentuk
koneksi temporer dengan area otak yang merespons ke makanan. Ketika koneksi ini
terbentuk, presentasi nada akan menyebabkan hewan bertindak seolah-olah makanan
akan disajikan,itu tanda bahwa reflek yang hmnigbndikondisikan sudah terjadi.
Stereotip Dinamis
Respon terhadap lingkungan yang sudah dikenal akan
makin cepat dan otomatis, itulah yang disebut dynamic stereotip(stereotip
dinamis). Secara garis besar , stereotip dinamis adalah mosaik kortikal yang
menjadi stabil karena organisme berada dalam lingkungan yang dapat diprediksi
selama periode waktu tertentu yang lumayan panjan.
Iradiasi dan Konsentrasi
Pavlov menggunakan istilah analyser
untuk mendiskripsikan jalur dari satu reseptor idrawi ke area otak tertentu. Suatu
analyser terdiri dari resptor indrawi jalur sensoris dari reseptor ke otak dan
area otak yang diproyeksikan oleh aktivitas sensoris. Informasi sensoris yang
diproyeksikan ke beberapa area otak akan menimbulkan eksitasi di area itu. Pada
awal terjadinya irradiation of excitation (iradiasi eksitasi)
dengan kata lain eksitasi ini akan menular ke area otak lain didekatnya. Proses
ini dipakai Pavlov untuk menjelaskan generalisasi. Penjelasan Pavlov tentang
generalisasi adalah bahwa implus neural berjalan dari reseptor indra,
dari telinga ke area tertentu di otak yang bereaksi terhadap nada 2.000-cps.
Pavlov juga menemukan bahwa concentration (konsentrasi), sebuah proses yang
berlawanan dengan iradiasi, mengatur eksitasi dan hambatan. Proses iradiasi
dipakai untuk menjelaskan proses generalisasi sedangkan proses konsentrasi
dipakai untuk menjelaskan diskriminasi. Pertama – tama organisme punya tendensi
umum untuk merespon CS selama pengkondisian. Tetapi dengan latihan yang lama,
tendensi untuk merespons dan tak merespons akan menjadi kurang umum dan semakin
spesifik ke arah stimuli tertentu.
Pengkondisian Eksitatoris dan Inhibitoris
Pavlov mengidentifikasikan dua tipe
dari pengkondisian, yang pertama excitatory conditioning, akan tampak
ketika pasangan CS-US menimbulkan suatu respon. Sebuah Bell (CS) yang
dipasangkan berulang kali dengan makanan (US) sehingga penyajian CS akan
menerbitkan air liur (CR), satu nada (CS) di pasangkan berulang kali dengan
tiupan angin (US) langsung ke mata sehingga penyajian CS saja akan menyebabkan
mata berkedip.
Conditioned inhibition tampak
ketika training CS menghambat atau menekan suatu respon. Misalnya, Pavlov
berspekulasi bahwa pelenyapan mungkin disebabkan oleh munculnya hambatan
setelah CS yang menimbulkan respon itu diulang tanpa suatu penguat. Prosedur
standar untuk menghasilkan hambatan yang dikondisikan adalah menyajikan satu CS
yang dipasangkan dengan US dan menghadirkan CS majemuk atau gabungan yang tidak
dipasangkan dengan US.
Ringkasan Pandangan Pavlov tentang Fungi Otak
Pavlov memandang otak sebagai
semacam mosaik titik – titik eksitesi dan hambatan. Setiap poin di otak
berhubungan dengan satu kejadian enviromental. Berdasarkan pada apa yang
dialami pada suatu saat, pola eksitasi dan hambatan yang berbeda akan muncul di
otak dan pola itu akan menjadi perilaku. Ketika koneksi temporer pertama kali
dibentuk oleh otak, ada tendensi bagi stimulus yang dikondisikan untuk memberi
efek umum di otak. Setelah proses belajar berlanjut eksitasi yang disebabkan
oleh stimulus positif dan hambatan yang disebabkan oleh stimulus negatif
menjadi terkonsentrasi di area spesifik di otak.
Pavlov tidak pernah menjelaskan
bagaimana semua prosedur ini berinteraksi untuk menimbulkan perilaku yang
terkoordinasi baik yang kita lihat dari semua organisme namun dia menunjukkan
keheranannya bahwa perilaku yang sistematis tidak muncul dari banyak faktor
pengaruh tersebut.
Sistem Sinyal Pertama dan Kedua
Karya Pavlov mengenai pengkondisian
telah menyediakan kerangka untuk memahami bagaimana organisme mengantisipasi
kejadian di masa depan. Karena CS mendahului kejadian yang signifikan secara
biologis (UR) maka mereka menjadi sinyal untuk kejadian yang memungkinkan
organisme itu mempersiapkan diri dan menjalankan perilaku yang tepat. Pavlov,
menyebut stimuli yang memberi sinyal kejadian yang penting secara biologis (CS)
ini sebagai first signal system. Selain itu, manusia juga menggunakan bahasa
yang terdiri dari simbol – simbol realitas. Seseorang mungkin merespon kata
bahaya sebagaimana merespon situasi yang aktual yang berbahaya. Pavlov menyebut
kata yang melambangkan realitas itu sebagai sinyal dari sinya atau second
signal system. Sinyal – sinyal yang muncul bisa diorganisasikan dalam sistem
kompleks yang akan memandu perilaku banyak manusia.
II.3.2 PERBANDINGAN ANTARA PENGKONDISIAN KLASIK DAN INSTRUMENTAL
Pengkondisian klasik dapat
menimbulkan suatu respon, dan pengkondisian instrumental akan tergantung pada
respons yang diberikan. Pengkondisian klasik dapat dikatakan bersifat tidak
sukarela dan otomatis, sedangkan pengkondisian instrumental bersifat sukarela
dan dikontrol.
Fungsi penguatan juga berbeda untuk
pengkondisian klasik dan instrumental. Untuk pengkondisian instrumental,
penguatan dihadirkan setelah respon dibuat. Untuk pengkondisian klasik, penguat
(US) disajikan untuk menimbulkan respon.
Kedua macam pengkondisian itu
memperkuat survivel organisme. Pengkondisian klasik memperkuatnya dengan
menciptakan suatu tanda dan simbol yang memungkinkan antisipasi kejadian yang
signifikan. Pengkondisian memperkuatnya melalui pengembangan pola perilaku yang
tepat dalam merespon kejadian signifikan tersebut. Perlu dicatat bahwa mustahil
memisahkan antara pengkondisian instrumental dan pengkondisian klasik.
II.3.3 RISET TERBARU TENTANG PENGKONDISIAN KLASIK
CR tidak selalu merupakan UR kecil. Pavlov
percaya bahwa selama jalannya pengkondisian CS akan menggantikan US dan itulah
mengapa pengkondisian klasik kadang disebut sebagai stimulus subtitute
learning. Diasumsikan bahwa karena CS bertindak sebagai pengganti US, maka CR
adalah versi kecil dari UR. Periset bukan hanya menemukan CR dan UR adalah
berbeda. Tetapi mereka juga menemukan bahwa keduanya saling bertentangan. Juga
ditemukan bahwa ketika digunakan US yang sama, akan muncul CR yang berbeda –
beda ketika CS yang berbeda dipasangkan dengan US itu. Ternyata terkadang CR
mirip UR, terkadang CR membuat organisme bersiap mengantisipasi US, terkadang
CR bertentangan dengan UR.
Pelenyapan melibatkan intervensi. Pavlov
percaya bahwa selama pelenyapan, presentasi CS yang tak diperkuatakan
menghasilkan hambatan yang dikondisikan yang menekan atau menanti asosiasi
eksitatoris yang telah dipelajari sebelumnya antara CS dan US. Karenanya,
mekanisme teoritis yang mendasari pelenyapan eksperimental dari respon yang dikondisikan
adalah hambatan, bukan eliminasi koneksi CS-US.
Argumen ini didasarkan pada tiga
fenomena belajar yang reliabel. Pertama, pemulihan spontan. Kedua, renewal
effect, yang muncul ketika satu respon yang telah dikondisikan dalam satu
konteks eksperimental dilenyapkan dalam konteks lainnya. Ketiga, reinstatement,
muncul ketika US disajikan setelah pelenyapan eksperimental sudah selesai.
Selama pelenyapan petunjuk konteks yang sama akan membangkitkan kembali
kenangan asosiasi CS-pelenyapan. Setelah pelenyapan CS menjadi ambigu.
Overshadowing dan Blocking. Pavlov
mengamati jika bahwa dia menggunakan satu stimulus majemuk gabungan sebagai CS
dan satu komponen dari stimulus tersebut lebih menonjol ketimbang komponen
lainnya, maka komponen yang paling menonjollah yang paling dokondisikan.
Fenomena ini disebut overshadowing. Leon Kamin melaporkan serangkaian percobaan
penting tentang fenomena yang disebut blocking. Kamin (1969) menggunakan
prosedur CER (conditioned emotional response) untuk menunjukkan konsep
blocking. Pertama, tikus dilatih untuk menekan tuas untuk mendapatkan penguatan
berupa makanan. Kemudian tikus dihadapkan pada 16 kali percobaan dimana suara
diikuti dengan setrum. Hasil dari training ini disebut dengan respons kekang
saat suara diperdengarkan. Selanjutnya menyandingkan suara dari tahap
sebelumnya dengan cahaya karenanya menciptakan stimulus majemuk atau gabungan.
Fase finalnya adalah hanya memberi cahaya kepada tikus untuk melihat apakah
stimulus cahaya ini menimbulkan pengekangan. Hal yang perlu diingat
blocking, seperti overshadowing menunjukkan contoh situasi dimana stimuli
dipasangkan sesuai dengan prinsip pengkondisian klasik namun tidak menimbulkan
pengkondisian.
Teori Pengkondisian Klasik Rescorla – Wagner
Teori Resercorla – Wagner memberikan
penjelasan fenomena pengkondisian klasik umum, memberikan beberapa prediksi tak
terduga yang relevan dengan pengkondisian klasik, dan memecahkan beberapa
problem penting yang berkaitan dengan pengkondisan klasik. Teori ini
menggunakan logika simbolis dan matematika sederhana untuk meringkas dinamika
belajar. Resercorla – Wagner mengasumsikan bahwa sifat dari US akan
menentukan level maksimum atau simpotik dari pengkondisian yang dapat dicapai.
Kontigensi , Bukan Kontiguitas
Dalam artikelnya yang berpengaruh,”Pavlovian
Conditioning: It’s Not what you think”Rescorla(1988) menyajikan tiga observasi
tentang pengondisian Pavlovian dan menjelaskan arti pentingnya dalam psikologi
modern.
Pertama ,seperti Egger dan Miller(1962,1963) dia
mengatakan pada dasarnya ada korelasi antara US dan CS yang lebih dari sekedar
kebetulan atau kontiguitas. Misalnya, satu situasi dimana hewan mengalami US
acak selama periode yang lebih panjang. Mungkin ada kejadian ketika US dan
CS terjadi bersama-sama(kontiguitas) dan ketika mereka terjadi secara
sendiri-sendiri. Bandingkan situasi ini dengan situasi dimana US dan CS
diprogram sehinggah mereka hanya terjadi bersama-sama. Dua kondisi ini
disajikan di gambar 7-6 dan penting untuk dicatat bahwa dalam kedua situasi itu
CS dan US terjadi bersama-sama dalam jumlah waktu yang sama.
Kedua, seperti Zener(1937), Rescorla(1988) mengatakan
bahwa klaim umum bahwa CR adalah miniatur atau ringkasan dari UR adalah klaim
yang yang terlalu menyerderhanakan atau bahkan tidak tepat. Respons tipikal
untuk suatu US berupa setrum listrik dalam eksperimen, misalnya, adalah
peningkatan aktivitas atau berupa respons yang mengejutkan. Akan tetapi,
seperti terlihat dalam fenomena pengekangan yang dikondisikan di atas, jika CS
yang dipakai untuk memberi isyarat setrum diberikan selama performa dari
respons yang berbeda(penekanan tuas), hasilnya adalah penurunan aktivitas. CR
dapat berupa beberapa respons yang berbeda-beda, bergantung pada konteks dimana
CS terjadi.
Dua poin ini tampak jelas ketika Rescorla (1966)
melatih anjing untuk melompat rintangan disebuah kotak agar ia terhindar dari
setrum yang diberikan daam interval reguler 30 detik. Situasinya ditata
sedemikian rupa sehinggah setrum itu bisa dihindari jika anjing melompati
rintangan, waktu dihitung lagi dari nol dan dmulai lagi dari awal. Tidak ada
sinyal eksternal yang mengindikasikan kapan suatu setrum akan diberikan
;satu-satunya sinyal adalah pemahaman anjing akan berlalunya waktu. Semua
anjing dalam eksperimen ini belajar melompati untuk menghindari setrum.
Rata-rata lompatan kemudian dipakai sebagai kerangka referensi untuk menilai
efek dari variabel lain yang dimasukkan kedalam eksperimen.
II.3.4 IRELEVENSI YANG DIPELAJARI, HAMBATAN LATEN, DAN
SUPERCONDITIONING
Setidaknya ada tiga fenomena yang menghadirkan masalah
bagi teori Rescorla-Wagner, namun mereka mudah dijelaskan oleh pendekatan
Macintosh atau Kamin/Wagner. Semua efek ini melibatkan pra-penghadiran CS
sebelum memperkenalkan kontigensi positif(eksitasi) antar CS dan US.
Ingat bahwa Rescorla(1996)menggunakan kondisi kontrol
yang benar-benar acak dimana CS dan US terjadi namun tidak ada kontigensi
diantara keduanya. Jika CS yang pertama kali dipakai dalam kondisi kontrol acak
kemudian dipasangkan dalam hubungan kontigensi dengan US,pengondisiannya akan
cacat. Learned irrelevence(irelevensi yang dipelajari)adalah
hilangnya keampuhan atau kemampuan CS yang dipakai dalam kondisi kontrol
acak(Mackintosh,1973).
Latent inhibition effect( efek
hambatan laten) terjadi ketika pra-pemaparan suatu CS(dengan tanpa
US)memperlambat pengondisian ketika CS dan US kemudian dipasangkan (misalnya,
Baker&Mackintosh,1997;Best&Gemberling,1977;Fenwick,Mikulka,&Klein,1975;Lubow&Moore,1959).
Sekali lagi, ini adalah problem untuk teori Rescorla-Wagner karena
pra-pemaparan ke CS seharusnya tidak memberi efek pada pengondisian. Bahwa pada
saat CS disajikan sendirian,organisme belajar bahwa CS itu tidak relevan dan
karenanya tidak terkait dengan kejadian signifikan. Setelah CS dianggap tidak
relevan, ia diabaikan dan karenanya menghambat pembentukan hubungan prediktif
ketika ia kemudian dipasangkan dengan US.
Pengondisian sebagai formasi
ekspektasi. Robert Bolles(1972,1979) menunjukkan bahwa organisme
tidak mempelajari respon baru selama pengondisian. Sebaliknya,organisme
melakukan reaksi spesies-spesifik yang sesuai dengan situasi. Menurut Bolles,
apa yang dipelajari organisme adalah ekspektasi yang membimbing prilaku yang
belum dipelajari oleh mereka. Suatu ekspektasi stimulus akan terbentuk
ketika CS dikorelasikan dengan hasil penting seperti ada tidaknya US. Dengan
kata lain, eksperimen pengondisian klasik biasanya menciptakan ekspektasi
stimulus. Suatu ekspektasi stimulus menyangkut perkiraan akan adanya satu
stimulus(US) dari kehadiran stimulus lain(CS). Organisme juga belajar
ekspektasi respons, yang emrupakan hubungan prediktif antara respons dan hasil.
Menurut Bolles, penguatan tidak memperkuat prilaku;ia memperkuat
ekspektasi bahwa respons tertentu akan diikuti oleh suatu penguat.
II.3.5
Aversi cita Rasa Yang Dikondisikan : Efek Garcia
Selama bertahun-tahun bukti anekdotal menunjukkan
bahwa tikus tidak punah karena mereka dengan cepat mengetahui bahwa beberapa
subtansi, seperti racun tikus, membuat mereka sakit dan karenanya harus
dihindari. Demikian pula, orang akan mau berbagi cerita tentang makanan atau
minuman yang mereka hindari karena mereka mengasosiasikannya dengan penyakit.
Garcia dan Koelling (1966) memvalidasi penjelasan aversi cita rasa anedotal ini
dengan menunjukkan fenomena yang tidak lazim dalam pengondisian klasik. Untuk
saat ini, kita hanya mendeskripsikan salah satu bagian dari eksperimen penting
ini, dan di Bab 15 kita akan mengeplorasi fenomena ini secara lebih detail
dengan perhatian khusus pada signifikansi evolusi dan biologisnya.
Meskipun eksperiment Gracia dan Koelling tampaknya
mengikuti prosedur pengondisian klasik, namun muncul sejumlah masalah
saat hasilnya diinterpretasikan sebagai fenomena pengondisian klasik.
II.3.6 EKSPERIMENT JOHN B.
WATSON DENGAN LITTLE ALBERT
Watson adalah pendiri aliran behaviorism (behaviorisme),
mengganggap bahwa psikologi seharusnya membuang semua konsep mental dan
penjelasan tentang perilku manusia berdasarkan insting.
Watson adalah determinis envoromental radikal. Dia percaya bahwa kita
semua sejak lahir telah dilengkapi sedikit gerak refleks dan sedikit
emosi dasar, dan melalui pengkondisian klasik refleks ini dipasangkan dengan
berbagai macam stimuli. Menurut Watson, emosi manusia adalah produk dari warisan
dan pengalaman. Menurut Watson, kita mewarisi tiga emosi dasar-rasa takut,
marah, dan cinta. Melalui proses pengkondisian, tiga emosi dasar ini menjadi
terikat dengan hal yang berbeda untuk orang yang berbeda-beda. Menurut Watson,
personalitas (kepribadian) adalah kumpulan dari refleks yang dikondisikan. Dua
menyangakal bahwa kita lahir dengan membawa kemampuan mental atau predisposisi.
Untuk menunjukkan bagaiman refleks emosional bawaan
menjadi dikondisikan ke stimuli neural, Watson dan Rosalie Rainer (1920)
melakukan percobaan pada bayi berusia sebelas bulan bernama Albert.
Selain Albert, unsure lain dalam percobaan ini adalah seekor tikus putih,
lempengan besi, dan palu.
Ditunjukkan bahawa rasa takut Albert digeneralisasikan
ke berbagai macam objek yang pada awalnnya tidak ditakutinya: kelinci, anjing,
kucing, kain sutra, dan topeng santa claus. Jadi. Watson menunjukkan bahwa
reaksi emosiaonal kita dapat ditata melalui pengkondisian klasik. Dalam
eksperimen ini, suaras keras adalah US, rasa takut yang ditimbulkan suara itu
adalah UR, tikus adalah CS, dan rasa takut pada tikus adalah CS. Rasa takut
Albert ,kepada obyek putih berbulu menunjukkan adanya generalisasi.
II.3.7 REPLIKASI BREGMAN ATAS EXPERIMENT WATSON
Pada 1934, E.O.Bregman mereplikasi eksperiman Watson
dan menemukan bahwa rasa takut anak memang dapat dikondisikan ke CS, namun
pengkondisian itu terjadi hanya dalam situasi-situasi tertentu. Bregman
menemukan bahwa pengkondisian akan terjadi hanya jika CS adalah hewan hidup
(seperti dalam eksperimen Watson) tetapi tidak terjadi pengkondisian jika CS
adalah obyek tak bernyawa, seperti balok kayu, botol, atau bahkan boneka
hewan dari kayu. Temuan Bregman tidak sesuai dengan klaim Pavlov dan Watson
bahwa sifat dari CS tidak relevan dengan proses pengkondisian. Akan tetapi,
temuannya konsisten dengan pendapat Seligman bahwa beberapa asosisasi lebih
mudah dibentuk ketimbang asosiasi lainnya karena adanya kesiapan biologis dari
organisme. Dalam kasus ini, Seligman (1972) mengatakan bahwa karena hewan memiliki
potensi untuk menimbulkan bahaya,maka manusia secara biologis bersiap untuk
mencurigainya dan karenanya lebih mudah belajar takut dan/ atau menghindarinya.
Menghilangkan rasa takut yang dokindisikan
Watson telah menunjukkan bahwa emosi bawaan, seperti
ras takut, dapt “ditransfer” ke stimuli yang ssebelumnya tidak menimbulkan rasa
takut, dan mekanisme, transfer itu adalah pengkondisian klasik. Ini adalah
temuan yang amat penting meski kemudian ditunjukkan bahwa pengkondisian akan
lebih mudah untuk beberapa stimuli ketimbang stimuli lain. Jika rasa takut itu
dipelajari, maka akan ada kemungkinan untuk melenyapkan rasa takut itu. Watson
berpendapat bahwa risetnya telah menunujukkan bagaiman rasa takut yang
dipelajri itu bisa berkembang dan tidak diperlukan lagi riset semacam itu. Kini
dia mencari anak yang sudah punya rasa takut dan kemudian diusahakan untuk
menghilangakan rasa takutnya. Watson kini bekerjasama dengan Mary Cover Jones
(1896-1987). Dan menemukan anak yang diiinginkan-anak berusia 3 tahun bernama
Peter yang sangat takut pada kelinci, kucing, kodok, dan ikan. Hergenhahn
(2005) meringkas usaha Watson dan Jones untuk menghilangkan rasa takut Peter.
Prosedur yang digunakan oleh Watson dan Jones untuk
menghilangkan rasa takut Peter ini mirip sekali dengan prosedur yang disebut desensitisasi
sistematis.
Teori belajar Watson
Watson banyak memperkenalkan psikologi Pavlovian ke
Amerika Serikat, dia tidak pernah sepenuhnya menerima prinsip Pavlovian.
Misalnya, dia tidak percaya bahwa pengkondisian bergantung pada penguatan.
Menurut Watson, belajar terjadi karena kejadian-kejadian susul-menyusul dalam
jarak waktu yang singkat. Juga , semakin sering kejadina-kejadian
muncul bersama, semakin kuat asosiasi diantara kejadian-kejadian itu.
Karenanya, Watson hanya ,mengakui hukum lama kontiguitas dan frekuensi.
Menurutnya, prinsip belajar lainnya adalah mentalistik, seperti hukum efek
Thorndike, atau tidak dibutuhkan, seperti gagasan mengenai penguatan.
II.4 APLIKASI TEORI BELAJAR PAVLOV
II.4.1 APLIKASI LANJUTAN DARI PENGKONDISIAN
KLASIK UNTUK PSIKOLOGIS KLINIS
Extinction (pelenyapan). Praktek klinik berbasis
pengkondisian klasik mengasumsikan bahwa karena gangguan perilaku atau
kebiasaan buruk adalah hasil dari belajar, maka perilaku itu bisa dibuang atau
diganti dengan perilaku yang lebih positif. Misalnya merokok dan kecanduan
alcohol sebagai perilaku buruk atau kebiasaan buruk. Dalam kasus ini, rasa
alcohol atau rokok daapt dianggap sebagai CS, dan efek fisiologis dari alcohol
atau nikotin adalah US. Setelah beberapa kali penyandingan CS-US, merasakan
CS saja akan menghasilkan kenikmatan (CR).Salah satu cara yang mungkin
bisa menghilangkan kebiasaan ini adalah dengan menghadirkan CS tanpa menghadirkan
US,dan karenanya menyebabkan pelenyapan. Schwartz, Masserman dan Robbins (2002)
menunjukkan masalah dalam prosedur ini :
Pertama adalah mustahil untuk menciptakan kembali
secara lengkap dalam setting laboratorium kejadian-kejadian yang kompleks dan
idiosinkretik yang berfungsi sebagai CS di dunia rill.
Kedua adalah tidak ada bukti bahwa pelenyapan akan
menghilangkan asosiasi CS-US yang mendasar; sebaliknya, pelenyapan secara
temporer akan menghalangi CR samapai kondisi-kondisi seperti berlalunya waktu
(pemulihan spontan) atau pengenalan kembali US (penguatan) atau konteks
training (pembaruan) bisa memunculkan kembali respon.
Ketiga, respon yang dilenyapkan itu bisa selalu muncul
lagi jika penggunaan alcohol terjadi lagi. (h.127)
counterconditioning
Adalah prosedur yang lebih kuat ketimbang pelenyapan
sederhana. Dalam counterconditioning , CS dipasangkan dengan US selain
US awal. Misalnya, seseorang diizinkan untuk merokok atau minum dan kemudian
diberi obat yang menimbulkan mual. Dengan penyandingan beberapa kali, rasa
sigaret atau alcohol akan menimbulkan rasa mual yang dikondisikan, yang pada
gilirannya akan menimbulkan ketidakmauan merokok atau minum. Meskipun counterconditioning
tampak sukses dalam sejumlah kasus, manfaat dari prosedur ini sering hanya
bersifat sementara. Schwartz, Wasserman dan Robbins (2002) mengatakan
bahwa pada akhirnya, counterconditioning mengalami kesulitan yang
sama dengan trainng pelenyapan. counterconditioning di
laboratorium atau klinik mungkin bisa digeneralisasikan ke luar setting ini.
Para pecandu mungkin belajar bahwa piihan minum alakohol itu tidak menyenangkan
ketika dilakukan di dalam lingkunagn artificial. Setiap tendensi untuk
menggunakan kembali alcohol di luar klinik akan menyebabkan pembentukan kembali
respon yang dikondisikan awal secara cepat. Counterconditioning menghadapi
kesulitan lebih jauh yang unik. Bahkan jika perawatannya efektif, upaya
meyakinkan pasien agar tidak mengulangi perilakunya lagi buaknlah tugas yang
mudah…(h.128)
Flooding. Problem utama dalam menghadapi
fobia adalah fakta bahwa individu menghindari pengalaman yang menakutkan.
Karena pelenyapan adalah proses aktif (CS harus dihindarkan dan tidak diikuti
dengan US ), usaha menghindari stimuli yang menimbulkan rasa takut justru akan
mencegah terjadinya pelenyapan. Jika, misalnya, seseorang punya fobia terhadap
anjing, orang itu tidak akan pernah dekat-dekat dengan anjing dalam waktu lama
untuk belajar apakah dekat dengan anjing itu aman atau tidak.
Desentisasi sitematis
Tokohnya adalah Joseph Wolpe (1958) yang
mengembangkan teknik terapi yang disebut sebagai systematic desensitization (desentisasi
sistematis). Dalam menghadapi klien yang menderita fobia terdiri dari tiga fase
Pertama, menyusun anxiety hierarchy (hierarki
kecemasan), dilakuakan dengan melakukan sederetan hal yang menimbulkan dan
kemudian mengurutkannya mulai dari hal menimbulkan kecemasan paling besar ke
yang paling kecil.
Kedua, Wolpe mengajarkan kliennya untuk relaks
(santai). Dia mengajari mereka mengendorkan otot dan menunjukksn bagaimana
rasanya seseorang yang tidak cemas.
Ketiga, klien pertama-tama merasakan relaksasi
mendalam dan kemudian diminta membayangkan item paling lemah dalam hierarki
kecemasan. Saat membayangkan si klien diimnta untuk relaksasi lagi. Setelah
selesai, klien diminta untuk membayangkan item berikutnya dan seterusnya
sampai selesai. Wolpe mengasumsikan bahwa jika setiap kali sebuah item dalam
daftar itu dirasakan bersama dengan relaksasi (tanpa kecemasan), sedikit dari
respon ketakutan yang diasosiasikan dengan item itu pada akhirnya akan hilang.
Agar fobia bisa dilenyapakn, item yang ditakuti itu harus diarasakan dalam
keadaan tanpa kecemasan.
Perbedaan antara Wolpe dan Watson & Jones.
Wolpe tak pernah menyuruh kliennya untuk pelan-pelan mendekati obyek yang
ditakutinya itu, sedangkan Watson dan Jones pelan-pelan mendekati obyek yang
ditakuti.
II.4.2 APLIKASI PENGKONDISIAN KLASIK UNTUK PENGOBATAN
Salah satu riset yang didasarakan pada pendapat Pavlov
dilakuakan oleh Metalnikov (Metalnikov, 1934; Metelnikov & Chorine, 1926)
yang melakukan serangkaian ekaperimen unik dalam pengkondisian klasik. Dengan
menggunakan babi sebagai subyek, Metelanikov memasangkan stimuli panas atau rabaan
(sentuhan) (CS) dengan injeksi protein asing (US). Metalnikov melaporkann bahwa
setelah beberapa kali penyandingan CS dan US , presentasi stimuli panas atau
sentuhan saja akan menimbulkan berbagai respon immune nonspesifik.
Riset oleh Robert Ader dan rekannya pada tahun 1970-an
menunjukkan bahwa sistem kekebalan dapat dikondisikan. Mereka menciptakan
bidang interdisipliner baru yang kini disebut psikoneuroimunologi, bidang
yang mengakaji interaksi antara factor-faktor psikologis (belajar, persepsi, emosi),
system syaraf dan system kekebalan.
Ader (1974) pada awalnya mempelajari aversi cita
rasa dengan memasangkan minuman mengadung sakarin (CS) dengan injeksi obat
(US). Obat dalam kasus ini, yakni cyclophosaphamide, menekan system kekebalan.
Setelah ekesperimen aversi rasa awal, Ader mencatat adanya angka kematian
yang tinggi pada tikus yang terus-terusan menerima cairan sakarin (tanpa US).
Dia mengatakan bahwa penekanan system kekebalan yang dikondisikan, yang
menyebabkan kerapuhan terhadap infeksi bateri atau virus menyebabkan
peningkatan angka kematian tikus.
II.4.3 PENDAPAT PAVLOV TENTANG PENDIDIKAN
Setiap kejadian netral dipaasang dengan kejadian
bermakna, akan terjadi pengkondisian klasik. Belajar matematika dalam situasi
yang menegangkan dan guru galak mungkin akan menyebabkan munculnya sikap
negative terhadap matematika; dan guru yang ramah dan menyenangkan akan mungkin
mengilhami murid untuk berkarir menjadi guru. Perasaan kecemasan yang
dikaitkan dengan kegagalan di sekolah mungkin menimbulkan masalah di luar
sekolah.
Efek Gracia menu jukkan bahwa aversi yang kuat
terhadap suatu situasi dapat muncul apabila pengalaman negative
diasosiasikan dengan situasi itu. Jadi hewan yang makan suatu makanan dan
menjadi sakit akan mneghindari makanan itu. Adalah mungkin jika pengalaman di
kelas adalah buruk, murid akan seumur hidup mengembangkan aversi terhadapa
pendidikan. Selain itu murid yang punya sikap negative terhadap pendidikan
mungkin akan menyerang guru, merusak sekolah, atau berkelahi dengan murid lain
untuk menyalurkan frustasinya.
Meskipun pengaruh pengkondisian klasik di sekolah
cukup kuat, pegaruh itu biasanya isidental. Tetapi prinsip pengkondisian klasik
dapat dipakai dalam program pendidikan, seperti dalam kasus Albert.
Ketika teknik Pavlovian dipakai untuk memodifikasi perilaku, situasinya tampak
menyerupai brainwashing ketimbang pendidikan.
Evaluasi teori Pavlov
Pertanyaan yang dirumuskan Pavlov- dan sebagian telah
menjawab-mengenai dinamika hubungan CS-US, cara akusisi respon,
generalisasi dan diskriminasi, serta pelenyapan dan pemulihan spontan,
telah memicu banyak studi dalam psikologi hingga saat ini dan juga studi yang
berkaitan dengan riset medis. Sampai 1965 telah dilakukan lebih dari 5.000
percobaan berdasarkan percobaan Pavlov, baik itu dalam riset ilmiah murni
maupun terapan (Razran, 1965). Dalam sejarah teori belajar, Pavlov menciptakan
teori pertama tentang belajar antisipasi. Pembahasan mengenai CS sebagai sinyal
adalah unik apabila dibandingkan dengan teoretisi belajar lain yang
memperlakukan stimuli sebagai kejadian keusal dalam koneksi S-R atau
sebagai kejadian penguatan yang mengikuti respons. Jika kita melihat habiatuasi
dan sensitasi sebagai unit paling sederhana dalam belajar non-asosiatif, maka
adalah tepat untuk mempertimbangkan respons yang dikondisikan secara klasik
sebagai unit fundamental dari belajar asosiatif. Jelas, teoretisi selain Pavlov
kini banyak menggunakan unit antisipatoris fundamental tersebut.
Kritik
Pavlov tidak mau menjelaskan belajar yang melibatkan
proses mental yang kompleks, dan ia berasumsi bahwa kesadaran hubungan CS-US
dari pembelajaran tidak dibutuhkan untuk proses belajar.
Barangkali pengaruh Pavlov akan lebih besar jika
dia benar-benar mau mengkaji proses belajar. Windholz (1992) menunjukkan bahwa
meskipun penemuan pengkondisian klasik terjadi pada 1897, Pavlo menganggap
karyanya berkaitan dengan penemuan fungsi system syaraf dasar dan sebelum tahun
1930 dia tidak menyadari bahwa karyanya itu relevan dengan perkembangan
teori belajar di Amerika. Di tahun-tahun akhir hidupnya dia berspekulasi
tentang belajar reflex dan tentang belajar trial-and-error.
BAB III
PENUTUP
III.1
KESIMPULAN
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
• Law of Respondent Conditioning yakni hukum
pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan
(yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus
lainnya akan meningkat.
• Law of Respondent Extinction yakni hukum
pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent
conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka
kekuatannya akan menurun.
III.2 SARAN
Salah satu keberhasilan tenaga pendidik dalam proses
pembelajaran adalah mampu mengaplikasikan dan memanifestasikan semua teori
belajar yang pernah didapat terhadap anak didik, oleh karenanya saran kita
semua sebagai calon pendidik diharapkan untuk bisa mempelajari dan
menerapkannya dari mulai sekarang.
Daftar Pustaka
Hergenhahn,B.R.,& Olson,M.H.2010.Theories Of
Learning(Teori Belajar,( Prenada Media Group: Jakarta).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar